Palangka Raya – Ketua Perkumpulan Suara Masyarakat Borneo, Diamon menyampaikan keprihatinan mendalam terkait kelangkaan BBM jenis Pertalite dan Pertamax yang melanda Kota Palangka Raya sejak awal Mei 2026.
Kondisi ini dinilai telah menyulitkan masyarakat, terutama pelaku usaha kecil, nelayan, dan driver ojek online.
“Kami menerima banyak laporan warga yang harus mengantre 1 hingga 2 jam hanya untuk mengisi BBM. Bahkan di tingkat pengecer, harga Pertalite melonjak hingga Rp18.000 per liter,” ujar Diamon dalam siaran pers yang diterima media, Kamis 7 Mei 2026
Berikut poin-poin sikap resmi Perkumpulan Suara Masyarakat Borneo:
1. Mendesak Pertamina untuk memastikan distribusi BBM berjalan lancar dan transparan, serta membuka posko pengaduan kelangkaan di setiap kecamatan.
2. Menolak kebijakan pembatasan BBM yang hanya menyulitkan masyarakat kecil, apabila tidak disertai dengan sosialisasi dan sistem penyaluran yang adil.
3. Meminta Pemerintah Kota dan Provinsi untuk segera berkoordinasi dengan pihak Kepolisian guna mengawasi SPBU dan mencegah praktik penimbunan.
4. Mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan panic buying serta melaporkan ke aparat jika menemukan indikasi kecurangan di lapangan.
“Jangan sampai kelangkaan ini dimanfaatkan oleh oknum untuk meraup keuntungan di tengah kesulitan rakyat,” tegasnya.
Perkumpulan Suara Masyarakat Borneo juga akan menggelar pertemuan dengan DPRD Kalteng dalam waktu dekat untuk membahas solusi jangka panjang terhadap rawan kelangkaan BBM di daerah.

Tinggalkan Balasan