Neoliberalisasi dan Kapitalisasi Pendidikan di Indonesia

Neoliberalisasi

Sumber Gambar Ilustrasi: https://nusantaranews.co/

Pendidikan di Indonesia pada awal abad ke-21 telah memasuki era baru. Jika sebelumnya sektor Pendidikan di indonesia di cengkram dengan belenggu birokrasi Pendidikan oleh rezim orde baru, pada era reformasi cengkraman tersebut dilepas. Sektor Pendidikan kini memasuki era baru yang bagaimana dikatakan sebagai “neoliberalisasi Pendidikan”.

Neoliberalisasi Pendidikan memunculkan masalah baru yang bisa dikatakan cukup pelik dan sangat kompleks. Sebelumnya kegiatan penelitian, pengabdian dan pengajaran (Tri Dharma Perguruan Tinggi) didikte dan di screening oleh rezim birokrasi orde baru. Di era liberalisasi Pendidikan kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi dicengkram oleh mekanisme pasar dan kepentingan modal.

Liberalisasi pendidikan telah menempatkan kampus tidak lagi sebagai sektor publik yang ditanggung pemerintah. Melalui mekanisme PTN-BH (Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum), kampus diberi otonomi dalam pengelolaan keuangan sekaligus menjadi medan bisnis baru. Hasil dari PTN-BH adalah lahirnya beton-beton yang menjulang tinggi. Sementara proses menjadikan pendidikan formal sebagai komoditas telah berlangsung sejak era penjajahan di Hindia-Belanda. Setelah 76 tahun Indonesia merdeka, komodifikasi tersebut masih terjadi dan semakin menjadi komoditas yang mahal.

Ilustrasi Gambar dari https://senatnyag2.blogspot.com/

Di sisi lain, universitas yang belum memiliki status PTN-BH harus dihadapkan dengan kontradiksi dalam era neoliberalisasi pendidikan ini. Mereka tidak sepenuhnya dilepas secara mandiri untuk mengelola keuangan dan tidak dapat bekerja sama dengan pihak swasta secara leluasa. Alhasil universitas-universitas tersebut menjalankan kebijakan menampung sebanyak-banyaknya mahasiswa agar meraup pundi-pundi uang dengan mengatasnamakan tujuan baik melakukan pembangunan fasilitas dan gedung. Industrialisasi tenaga terdidik untuk rantai industri kapitalis berjalan secara besar-besaran. Sampai menerapkan jam kuliah malam agar ruang-ruang kelas tidak berdesak-desakan dengan membludaknya mahasiswa. Ruang-ruang pendidikan ibarat pabrik yang memproduksi komoditas selama 24 jam.

Neoliberalisasi telah membentuk investasi, komoditas dan juga barang mewah  pada ruang lingkup Pendidikan di bangsa ini yang hanya dapat diakses oleh segelintir orang dan menjadi objek untuk meraih keuntungan. Biaya Pendidikan yang semakin mahal, memaksa keluarga para pelajar yang berlatar belakang masyarakat kelas bawah harus bersusah payah untuk memenuhi biaya Pendidikan anak-anak mereka.

Masalah di universitas tidak hanya terkait adanya komersialisasi Pendidikan, juga relasi kerja di kampus yang begitu mengenaskan dan proses produksi hegemoni yang sampai sekarang terus terjadi. Dan juga pekerja di kampus dalam neoliberalisasi Pendidikan dihadapkan dengan berbagai problem serius, seperti tentang upah yang tidak layak, mekanisme kontrak, putsourcing, tidak ada jaminan Kesehatan, jam kerja yang bahkan lebih dari 8 jam dan proses pencurian nilai lebih yang juga terjadi. Jika mereka mengharapkan pendapatan tambahan, harus dihadapkan dengan godaan project-project korporasi dengan dana yang melimpah (terutama dosen dan peneliti). Mereka ditundukan oleh kekuatan uang untuk mengabdi pada korporasi.

Gambar Ilustrasi dari gambar-pedagos.wordpress.com

Proses senioritas nan feodalistik juga berjalan. Para pekerja seperti peneliti dan asisten seringkali diperas pengetahuannya untuk mengerjakan project atau karya yang hasilnya diakui oleh senior atau petinggi di universitas dalam relasi kerja yang ada. Sementara proses kapitalisme kognitif membuat para pekerja dikampus semakin dieksploitasi.

Sistem neoliberalisme yang berada di satu ruang lingkup membuat efek domino yang dirasakan semua kalangan yang ada. Permasalahan neoliberalisme Pendidikan adalah permasalahan semua kalangan publik. Namun sebuah hal yang membuat ini menjadi tantangan yang cukup berat dimana hal yang lebih penting adalah proses neoliberalisasi Pendidikan ini tidak hanya berhenti sekadar sebagai masalah, lebih penting dan mendesak adalah bagaimana untuk menyelesaikan masalah tersebut.


Penulis: I Putu Yoga Saputra
Dipublikasikan oleh: NarasiTimes.Com

Tentang Penulis

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *